Categories
Teknologi

Plus-Minus Menggunakan Macbook Pro 13 retina display

Saya sudah menggunakan laptop Macbook Pro sejak sekitar 4 bulan yang lalu. Sebelumnya saya menggunakan laptop Acer Aspire. Saya mengganti laptop saya karena rusak. Selama 4 bulan ini, saya mengalami beberapa hal yang saya sukai dan yang saya benci.

Yang Saya Sukai ( di urutkan dari yang paling saya sukai):

  1. Touchpad Force Touch.
    Saya terkejut menggunakan touchpad ini. Feedback kliknya tidak menggunakan sistem mekanis seperti keypad biasa, tetapi menggunakan motor yang dirancang khusus untuk bergetar menyerupai sistem mekanis. Efeknya adalah, ketika kamu klik di mana saja kamu bisa merasakan feedback klik yang merata, berbeda dengan touchpad lain yang biasanya hanya bisa di klik di bagian bawah touchpad tersebut atau walaupun bisa di klik di mana saja, tidak ada feedbacknya. Bagi saya, ini adalah fitur paling yang saya sukai.
  2. Spotlight
    Membuka aplikasi apapun cukup dengan menekan command+space lalu mengetik 2 huruf pertama nama aplikasinya. Tidak perlu susah payah klik banyak menu hanya untuk membuka aplikasi. Spotlight juga bisa di gunakan untuk melihat kurs uang, kalkulator, cuaca dan lain-lain.
  3. Retina Display
    Display Macbook pro ini luar biasa tajam. Warna-warna yang dihasilkan juga begitu hidup. Apalagi jika dibandingkan dengan laptop saya yang lama, resolusi layarnya “cuma” 1366×768, sementara resolusi layar ini 2560×1600. Tajamnya membuat saya tidak cepat lelah memandang text, yang sering sekali saya lakukan ketika melakukan programming.
    9-stunning-examples-of-the-new-ipad-s-retina-display-629e9b2ec4
  4. Battery Life
    Macbook pro ini tahan saya gunakan untuk browsing, programming android ( yang IDE nya berat sekali) dan menonton video hampir 10 jam. Saya sangat terkejut karena artinya tahan seharian, berbeda jauh dengan laptop saya yang lama yang hanya bertahan maksimal 2 jam dengan kondisi seperti itu. Ini juga berarti saya tidak perlu membawa charger saat bekerja sehari penuh.
  5.  Ringan & tipis
    Laptop ini tebalnya hanya setengah laptop saya yang lama. Saya terkadang harus mengecek lagi apakah saya sudah membawa laptop apa belum, karena tas yang saya gunakan tidak seberat ketika saya menggunakan laptop acer yang beratnya sekitar 2 kg.
  6. Multitouch Gesture
    Mengganti virtual desktop cukup swipe 3 jari ke kanan, melihat aplikasi yang aktif cukup geser tiga jari ke atas, Gesture-gesture ini sangat praktikal dan memudahkan. Ini adalah fitur yang paling sering saya gunakan.
  7. Unix Based (Mac OS X)
    Hal ini memang tidak terlalu penting, tetapi merupakan salah satu fitur yang saya suka, karena saya sudah terbiasa menggunakan perintah-perintah Unix.

Hal yang saya benci (Di urutkan dari yang saya benci)

  1. Shortcut finder yang aneh
    Saya harus menggunakan cmd+arrow down untuk masuk ke dalam folder atau menjalankan file, sementara hal yang tidak terlalu saya sering gunakan seperti rename, malah di taruh di tombol enter. Sungguh tidak masuk logika shortcut rename adalah enter.
  2. Get Info multiselection yang aneh
    Apabila saya select beberapa item, lalu klik get info, Saya ekspek akan keluar info gabungan dari file dan folder yang saya select. Tetapi yang keluar malah seperti di bawah, dan tidak ada cara mudah untuk close semua window yang keluar.
    Screen Shot 2016-02-02 at 8.23.53 AM
  3. Opsi Boot to windows di sembunyikan.
    Berbeda jauh saat ingin pindah dari windows ke mac yang cukup klik kanan di taskbar, untuk bisa memilih pindah mac ke windows di haruskan membuka system preferences -> Startup disk -> klik logo gembok lalu memilih bootcamp. Hal ini seakan apple tidak ingin penggunanya menggunakan windows.

Demikianlah apa yang saya suka, dan saya benci dari mac book Pro 13 Retina.

Categories
Anime & Game

Review: Nagi No Asukara

Episode: 26
Tayang: Okt 3, 2013 sampai Apr 3, 2014
Produser: Geneon Universal Entertainment, Rondo Robe
Studio: P.A. Works
Genre: Drama, Fantasy, Romance

Nagi no asukara adalah sebuah anime drama, mengambil setting di kota dalam lautan yang berbatasan langsung dengan kota di daratan. Ceritanya berkisah seputar masalah-masalah yang di hadapi oleh para tokoh utama, yaitu masalah persahabatan dan cinta dengan bumbu lain seperti perselisihan antara orang-orang lautan dengan daratan.

Yang biasanya paling utama di suguhkan oleh anime seperti ini adalah perkembangan karakter dan dialog-dialog yang mengena di hati. Nagi No Asukara berhasil dengan sempurna melakukan hal tersebut. Salah satu contohnya bagaimana karakter utama awalnya sangat over protektif, mudah terprovokasi menjadi lebih dewasa dan tenang di pertengahan cerita. Hal ini tidak hanya terjadi di karakter utama saja, tetapi terjadi juga di karakter-karakter yang terbilang minor. Perkembangan karakter nya bahkan bisa di sandingkan dengan anime yang sangat terkenal Ano Hi Mita Hana no Namae wo Bokutachi wa Mada Shiranai.

nagi

Senjata utama lain dari anime ini adalah visualnya. Setiap gambar latar indah dan memukau, terlihat detail-detail yang biasanya di lupakan atau di hindari oleh studio animasi, dengan warna-warna yang cantik, sesuai dengan suasana cerita. Hanya sedikit anime yang memiliki kualitas diatas ini, bahkan gambarnya bisa dibilang mendekati, walaupun belum sebaik anime bioskop dengan budget besar dan waktu pengerjaan panjang seperti The Garden of Words.

Audio yang ditawarkan oleh anime ini juga tidak kalah menariknya. seluruh Opening dan ending patut diacungi jempol. Tetapi yang paling harus di apresiasi adalah BGM nya. Dengan konsep jazz, waltz dan intrumental, BGMnya sanggup membuat setiap dialog dalam cerita menjadi lebih berkesan di hati. Belum ada anime yang BGMnya sebaik ini menurut saya.

nyanko-nagi-no-asukara-01-720p86d03828-mkv_snapshot_12-56_2013-10-05_00-20-34
Kekurangan dari anime ini adalah dari segi variasi masalah dalam cerita. Terkadang problem-problem yang di hadapi di ulang-ulang. Hal ini membuat kebosanan. Apalagi anime ini 26 episode, seharusnya anime ini bisa menyuguhkan lebih banyak lagi problem yang harus dihadapi tokoh utama. Masalah pacing juga sangat kentara. Terlalu banyak dialog-dialog tidak penting yang di ulang-ulang. Apabila pacing anime ini lebih cepat, mungkin anime ini akan tamat hanya dengan 21 episode.

Kesimpulannya, Nagi No Asukara unggul pada pengembangan karaker dan audio-visual, tetapi lemah dalam pacing dan konten cerita. Walaupun demikian, Nagi No Asukara tetap merupakan salah satu anime yang wajib di tonton oleh pecinta  anime drama romantis.

Cerita : 7.5/10
Karakter: 9/10
Gambar : 9/10
Audio : 9/10
Skor Akhir: 8.6/10

Categories
Anime & Game

Review Yahari Ore no Seishun Love Comedy wa Machigatteiru. Zoku

Tipe: TV
Jumlah Episode: 13
Status: Selesai di siarkan
Sutradara : Kei Oikawa
Genre: Komedi, School Life, Pertemanan
Disiarkan: 3 April 2015 hingga 26 Juni 2015
Penerjemah Horrible Sub
Lagu Pembuka: Yagi Yanagi

Sinopsis

Merupakan kelanjutan dari Yahari Ore no Seishun Love Comedy wa Machigatteiru (2013), Cerita berfokus bagaimana tokoh utama, Hachiman Hikigaya mengatasi klub dia yang mulai terpecah karena sifat Hachiman yang selalu memecahkan masalah dengan cara mengorbankan dirinya. Hachiman tidak menyadari bahwa hal-hal seperti itu menyakiti teman-temannya. Dia berpikiran bahwa sampai saat ini dia tidak memiliki teman, dan setiap orang memiliki keperluan dengan Hachiman pasti memiliki niat lain dibalik perkataan mereka.

 Hachiman tidak menyadari, bahwa sebenarnya dia ingin sekali memiliki teman yang nyata, tanpa harus ada maksud-maksud tertentu, teman yang benar-benar bisa mengerti dia. Dapatkah hachiman mengatakan perasaan dia yang sesungguhnya ? Dapatkah hachiman menyatukan kembali pertemanan mereka yang renggang ?

  JalsubAIAsub-Yahari-Ore-no-Seishun-Love-Come-wa-Machigatteiru.-Zoku-09-43338FB5.mkv_snapshot_15.13_2015.05.29_20.40.47

Review

Sebenarnya anime dengan tema seperti ini sudah banyak. Hanya ada satu cara agar anime ini mampu menjadi unik dan bisa berbekas di hati, kejadian-kejadianya. Sayangnya pada anime ini kejadian sebelum klimaks sama sekali tidak membangun alasan kenapa tokoh utama menginginkan teman.

Alasan-alasan tersebut dibangun pada season 1 yang di siarkan pada tahun 2013. Hal ini menyebabkan saya sedikit kesulitan bersimpati dengan perasaan tokoh utama, karena sekali lagi sangat sedikit kejadian-kejadian dalam season 2 yang memperlihatkan bahwa tokoh utama sangat dekat dengan anggota klub.

Episode-episode yang hanya 12, di sia-siakan dengan mengulang-ulang cerita bahwa tokoh utama sedang bingung dengan perasaanya, ada masalah lain yang tidak berhubungan dengan apa yang sedang dia rasakan sekarang dan masalah klub yang terpecah. Hal ini di ulang sampai kira-kira 4 episode. Saya hampir drop karena tidak tahan tidak ada perkembangan jalan cerita.

maxresdefault

Namun, hal ini bukan berarti anime ini 100% jelek, pada episode 8, akhirnya cerita klimaks, dan buat saya ini salah satu klimaks cerita yang paling bagus yang pernah saya tonton. Bagaimana tokoh utama yang arogan, sok tahu , terlalu sensitif akhirnya menangis saat mengutarakan perasaan dia yang sebenarnya.Kalau saja cerita sebelum klimaks di tekankan pada keseharian klub, mungkin saya bisa menangis, karena bersimpati dengan tokoh utama, sayangnya hal ini tidak terjadi.

Hal lain yang membuat anime ini bersinar adalah dialog-dialog dan monolog-monolognya, powerfull, penuh dengan ungkapan-ungkapan yang menarik, selera humor yang tinggi dan quotes yang tajam. Tidak aneh karena cerita ini diangkat dari light novel.

yui_yukinon

Lagu pembuka juga catchy, apalagi dinyanyikan oleh Yanagi Nagi, vokalis utama supercell. BGM yang di gunakan tidak monoton, bahkan menyayat hati saat sedang sedih.

Sayangnya dari sisi pengisi suara, Tokoh utama sering berbeda suaranya, selain menurut saya pengisi suara tersebut memang kurang cocok memainkan Hachiman Hikigaya.

Dari segi desain juga sangat menarik, tidak ada satupun tokoh yang desainnya tidak saya suka. Gambar-gambar latar belakangnya tidak monoton dan penuh warna.

9a99a529_1362789014359

Keputusan

Rating : 7.8/10

Plus :

-Monolog dan dialog sangat menarik

-Lagu pembuka dibawakan oleh Yanagi Nagi

Minus :

-Progresi cerita yang terlalu lambat

Categories
Anime & Game

Review Shin Megami Tensei IV

Developer : Atlus
Publisher : Atlus
Platform : Nintendo 3DS
Genre : RPG

Biasanya gw tuh paling tidak suka bermain game yang membutuhkan grinding. Yap, gw paling benci dengan yang namanya grinding. Bagi gw, yang terpenting dalam sebuah game adalah storynya. Bagaimana sebuah game dapat membuat pemain merasa masuk didalam dunia game tersebut.

Awalnya gw tidak tertarik untuk membeli game ini, karena tahu bahwa seri mainline SMT adalah series yang ditujukan kepada hardcore grinding fanatics. They even say, “SMT : Persona tuh bukan SMT, kegampangan, ga perlu grinding”. Namun hal ini berubah ketika diskonan Nintendo E-Shop menyerang. Bayangkan saja, Harga aslinya adalah $49 ( Sekitar 585 ribu rupiah ) di diskon tinggal $19 (Sekitar 220 ribu rupiah). Gw pun berpikir, Hey why not ? It’s not everyday Nintendo & Atlus giving more than 50% discount on their products !

Keanehan mulai terjadi saat pertama main. Gw menyerang monster di awal dungeon dan gw mati. WHAT THE FUCK ? Mana ada game yang lawan monster pertama kali langsung game over, dan ini terjadi beberapa kali. Okay , gw ga boleh menyerah dulu, coba kita lihat apakah worth it di lanjutkan karena storynya.

Surprisingly, 30 jam kemudian, yang gw dapatkan adalah story yang Its not that good, but it’s not that bad either. Storynya biasa aja. Dia bercerita tentang seorang samurai (Flynn) bersama temannya dari eastern kingdom of mikado menjelajahi kota tokyo. Kota tokyo di ceritakan sudah hampir hancur, dimana pada akhirnya tokoh utama dapat memilih menghancurkan tokyo atau menghancurkan yang lain (anti spoiler :P) There is no romance / harem in here ! it’s a very serious game !
Shin-Megami-Tensei-IV-001
Despite everything, ternyata sistem monster & grindingnya sangat enjoyable. Gw katakan sekali lagi, yang membuat gw betah main game ini adalah monster & grinding, hal yang ga pernah gw pikir gw bakal suka sebelumnya. Kenapa ? karena ada sistem Autobattle dan Pinpoint . Sistem monster khas SMT juga menarik, yang terpenting adalah menyerang atribut kelemahan monster lawanmu, walaupun kamu sedikit underlevel, kamu bisa menang! , walau berlaku juga sebaliknya, kalau monster musuh kamu memiliki skill kelemahan atribut kamu, hampir pasti kamu kalah. Kamu di tuntut untuk menyesuaikan skill dan equip kamu dengan monster yang diserang.

Monsternya sendiri unik, setiap monster punya kepribadian dan bisa di rekrut menjadi teman kamu. Cara merekrutnya pun banyak, dari mulai berbicara , memberikan item, hingga membuat takut. Monsternya bisa kamu gabungkan, skill pada monster tersebut bisa di turunkan ke monster hasil gabungan. Game ini terasa seperti pokemon untuk orang dewasa .

In the end, gw tidak menyesal membeli game ini. Game ini dapat menjadi pembuka mata bahwa game grinding tidak terlalu membosankan seperti yang pertama gw bayangkan.

Keputusan : 

Rating : 8/10

Plus :
-grinding mudah dilakukan
-Sistem attribut yang seru
-Mini quest sangat banyak,

Minus :
-worldmap yang kurang intuitif
-Storynya biasa saja